Siapa yang tidak mengenal hidangan bundar nan lezat satu ini? Hampir di setiap sudut dunia, kita bisa menemukan variasi makanan ini. Namun, jika kita berbicara tentang sejarah Pizza Margherita: simbol kebanggaan kuliner Italia, kita harus kembali ke akar tradisinya di kota Napoli. Pizza bukan sekadar makanan cepat saji, melainkan sebuah identitas budaya yang sangat di jaga keasliannya oleh masyarakat Italia hingga saat ini. Di balik kesederhanaan topping-nya, tersimpan kisah patriotisme dan penghormatan terhadap sang ratu yang mengubah nasib makanan rakyat jelata menjadi hidangan kelas bangsawan.
Baca Juga: Top 10 Menu Pizza Hut yang Wajib Dicoba
Bagi warga lokal di Naples, cara pembuatan pizza memiliki pakem yang sangat ketat dan tidak boleh sembarangan. Anda mungkin sering melihat pizza dengan berbagai topping modern, namun versi Margherita tetap menjadi standar emas bagi para koki pizzaiolo. Pengetahuan mengenai asal-usulnya akan membuat Anda lebih menghargai setiap gigitan dari perpaduan saus tomat, mozarella, dan kemangi yang segar ini. Mari kita telusuri lebih dalam bagaimana selembar roti pipih ini bisa menjadi ikon global yang begitu dicintai.
Asal-Usul dan Legenda Ratu Margherita di Napoli
Kisah yang paling populer dan diakui secara luas bermula pada tahun 1889. Saat itu, Raja Umberto I dan Ratu Margherita dari Savoy sedang berkunjung ke Napoli. Sang Ratu merasa bosan dengan hidangan mewah ala Prancis yang terus-menerus di sajikan selama perjalanannya. Oleh karena itu, beliau meminta seorang koki pizza paling terkenal di kota itu, Raffaele Esposito, untuk membuatkan sesuatu yang berbeda dan lokal.
Raffaele kemudian menyiapkan tiga jenis pizza untuk sang ratu. Salah satunya menggunakan lemak babi, keju caciocavallo, dan kemangi. Namun, varian ketiga yang menggunakan tomat, mozarella, dan daun kemangi segar ternyata menjadi favorit utama sang ratu. Koki tersebut dengan cerdik menamai kreasinya “Margherita” sebagai bentuk penghormatan. Selain rasanya yang nikmat, alasan utama Ratu sangat menyukainya adalah karena warna-warna tersebut merepresentasikan bendera Italia: merah (tomat), putih (mozarella), dan hijau (kemangi). Sejak saat itu, sejarah Pizza Margherita: simbol kebanggaan kuliner Italia resmi tercatat sebagai tonggak penting perkembangan kuliner dunia.
Pakem Asli Pembuatan Pizza Napoletana yang Autentik
Tahukah Anda bahwa pemerintah Italia sangat serius melindungi warisan ini? Ada lembaga khusus bernama Associazione Verace Pizza Napoletana (AVPN) yang mengatur standar pembuatan pizza agar tetap autentik. Jika sebuah restoran tidak mengikuti aturan ini, mereka di larang menyebut produk mereka sebagai pizza Napoletana yang asli. Hal ini menunjukkan betapa besarnya rasa hormat mereka terhadap sejarah Pizza Margherita: simbol kebanggaan kuliner Italia.
Pertama, adonan harus dibuat hanya dari tepung terigu tipe 00, ragi alami, air, dan garam. Tidak boleh ada minyak atau lemak tambahan di dalam adonan rotinya. Kedua, proses pemipihan adonan harus menggunakan tangan secara manual, bukan menggunakan alat penggilas mesin. Teknik ini bertujuan untuk menjaga udara tetap berada di dalam adonan sehingga pinggirannya (cornicione) bisa mengembang cantik dan empuk saat dipanggang. Selain itu, penggunaan bahan-bahan lokal dari wilayah Campania, seperti tomat San Marzano yang tumbuh di tanah vulkanik Gunung Vesuvius, adalah syarat mutlak yang tidak bisa ditawar.
Teknik Pemanggangan Tradisional Menggunakan Kayu Bakar
Metode memasak memegang peranan krusial dalam menciptakan rasa yang autentik. Pizza Margherita asli harus di panggang di dalam oven batu berbentuk kubah yang di panaskan dengan kayu bakar. Suhu di dalam oven ini harus mencapai sekitar 485 derajat Celcius. Karena suhunya yang sangat tinggi, pizza hanya butuh waktu sekitar 60 hingga 90 detik saja untuk matang sempurna.
Hasil dari proses kilat ini adalah roti yang memiliki bercak kecokelatan yang khas (sering di sebut leopard spotting) namun tetap memiliki tekstur yang lembut dan elastis. Aroma asap dari kayu bakar memberikan dimensi rasa yang tidak mungkin dihasilkan oleh oven listrik modern. Ketika Anda melihat mozarella yang meleleh namun tidak gosong, serta saus tomat yang masih terasa segar, itulah tanda bahwa pakem tradisi telah di jalankan dengan benar. Hal ini membuktikan bahwa dedikasi terhadap kualitas adalah inti dari keberhasilan kuliner Italia bertahan selama berabad-abad.
Bahan-Bahan Utama yang Menentukan Kualitas Rasa
Kesederhanaan adalah kunci dari kelezatan Margherita. Karena hanya menggunakan sedikit bahan, maka kualitas setiap komponen haruslah yang terbaik. Tomat San Marzano memberikan rasa manis dengan tingkat keasaman yang seimbang, yang menjadi dasar rasa yang kuat bagi keseluruhan hidangan. Tanpa tomat yang tepat, identitas rasa dari sejarah Pizza Margherita: simbol kebanggaan kuliner Italia akan terasa hambar dan kurang berkarakter.
Keju yang di gunakan pun bukan sembarang keju. Standar aslinya menggunakan Mozzarella di Bufala Campana (dari susu kerbau) atau Fior di Latte (dari susu sapi berkualitas tinggi). Keju ini memberikan tekstur creamy yang menyatu sempurna dengan saus tomat panas. Daun kemangi atau basil segar tidak hanya di tambahkan sebagai hiasan, tetapi juga memberikan aroma herbal yang menyegarkan pikiran. Terakhir, sentuhan minyak zaitun murni (extra virgin olive oil) di tuangkan di atasnya sesaat sebelum di sajikan untuk menambah kekayaan rasa.
Mengapa Pizza Ini Menjadi Ikon Identitas Bangsa?
Bagi orang Italia, pizza bukan hanya soal mengisi perut yang lapar. Hidangan ini mencerminkan semangat kesederhanaan dan kecintaan pada tanah air. Pada masa unifikasi Italia, Margherita menjadi simbol pemersatu karena warnanya yang mewakili identitas nasional. Bahkan, UNESCO telah menetapkan seni pembuatan pizza Napoli ini sebagai Warisan Budaya Takbenda pada tahun 2017.
Kepopuleran globalnya memang luar biasa, namun bagi warga Napoli, menjaga pakem asli adalah tugas suci. Meskipun banyak restoran crs99 di luar sana melakukan eksperimen dengan nanas, ayam, atau sosis, Margherita tetap berdiri kokoh sebagai versi yang paling murni. Hal ini mengingatkan kita bahwa di tengah gempuran modernitas, menghargai tradisi adalah cara terbaik untuk menjaga jiwa dari sebuah kebudayaan. Tanpa adanya kesadaran akan sejarah, kita mungkin hanya akan menikmati sepotong roti tanpa makna.